Engkau Akan Bersama Orang yang Dicintai

Opini – (28/9) ANAS bin Malik berkisah, bahwa seseorang mendatangi Nabi , lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat terjadi?” Beliau balik bertanya, “Apa yang telah kaupersiapkan untuknya?” Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak menyiapkan puasa yang banyak, tidak juga sedekah. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama yang kaucintai.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Cinta memang ajaib. Karenanya seseorang rela berkorban dan menempuh marabahaya. Energi cinta akan mendorongnya melakukan hal-hal menakjubkan.

Hanya saja, seberapa berharga perjuangannya itu ditentukan oleh apa dan siapa yang dicintainya. Ketika yang dicintainya hanya bagian dari dunia yang fana, maka keajaibannya pun fana dan mudah berubah.

Lihatlah orang-orang yang jatuh cinta kepada kekasihnya, dan betapa menakjubkan apa yang bisa mereka perbuat. Namun, belum lagi kekaguman kita pudar, mereka telah mencaci-maki kekasihnya itu dan meninggalkannya. Bagaimana bisa? Ya, karena seluruh unsur dalam cintanya adalah fana.

Akan tetapi, cinta seorang muslim kepada Allah dan Rasul-Nya memiliki sifat yang khusus. Cintanya bersemi dari benih iman, dipupuk dengan amal shalih, dan akhirnya berbuah ridha. Allah berfirman:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

 “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (Qs. al-Fajr: 27-30)

Mereka menyebut dirinya pecinta Ahlul Bait, namun sebenarnya justru pelaknat Ahlul Bait. Tidakkah mereka membaca sejarah, bahwa generasi awal Ahlul Bait sendiri menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang sekarang dilaknat oleh para Ahlul Bait gadungan itu? Diantara putra ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri selain Fathimah) terdapat nama Abu Bakar dan ‘Umar. Nama-nama ini juga terdapat diantara putra Al-Hasan dan Al-Husain. Bahkan, ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Husain menamai putrinya dengan ‘Aisyah!

Apakah Rasulullah salah memilih sahabat dekat dan menantu? Jika benar mereka adalah orang-orang yang hina, bagaimana mungkin Allah tidak memberitahu beliau, padahal seluruh tanda-tanda kiamat yang jauh maupun dekat pun telah diberitahukan-Nya?

Apa pula rahasia di balik pemberian nama-nama Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah, oleh Ahlul Bait sendiri kepada putra-putri mereka di masa itu? Apakah mereka ber-taqiyyah (pura-pura) karena takut? Bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan ‘Ali adalah orang yang paling pemberani, demikian pula putra-putranya?

Tidak ada jawaban lain, kecuali karena mereka cinta dan kagum kepada Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah. Karena setiap orang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya.

Maka bila kelak Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah dimasukkan ke Surga, kita sudah tahu kemana perginya orang-orang yang di dunia ini membenci dan mencaci-maki mereka. Jelasnya, dua pihak yang bermusuhan ini tidak akan Allah kumpulkan menjadi satu. Na’udzu billah.

 

Share

Komentar